Antisipasi PLN Hadapi Cuaca Ekstrem dan Lonjakan Beban, Pastikan Listrik Aman Saat Lebaran 2025

SUARAJATIM - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) kembali mengingatkan: cuaca ekstrem dengan hujan lebat dan angin kencang diprediksi bertahan hingga periode mudik Lebaran 2025. Ancaman ini bukan sekadar peringatan biasa. Bagi PT PLN (Persero), ini adalah panggilan untuk bergerak cepat, memastikan denyut listrik di seluruh Nusantara tetap berdetak tanpa jeda.
Tim PLN melakukan pengecekan jaringan listrik menjelang Lebaran 2025 di tengah ancaman cuaca ekstrem.
Sejak 17 Maret 2025, PLN telah memasuki masa siaga kelistrikan. Adi Priyanto, Direktur Distribusi PLN, dalam konferensi pers di Kantor Kementerian BUMN (20/3), menegaskan kesiapan perusahaan menghadapi tantangan ganda: cuaca ekstrem dan lonjakan konsumsi energi selama Ramadan hingga Idulfitri. "Kami ingin keluarga Indonesia merayakan momen kebersamaan tanpa gangguan. Listrik andal adalah bagian dari kebahagiaan itu," ujarnya, seraya menyebut persiapan telah dimatangkan sejak sebulan sebelumnya.

Pengecekan Menyeluruh: Dari Pembangkit hingga Kabel di Udara

PLN tak mau mengambil risiko. Seluruh aspek infrastruktur kelistrikan diperiksa berlapis. Mulai dari pembangkit yang menyumbang daya mampu 67 gigawatt (GW), transmisi tegangan tinggi, hingga jaringan distribusi yang menjangkau rumah-rumah. "Reserve margin kita 49%, lebih dari cukup untuk antisipasi lonjakan beban hingga 45 GW," jelas Adi.

Batu bara, gas, dan BBM sebagai bahan bakar utama pembangkit juga dipastikan aman. Stok batu bara mencukupi 22 hari operasi, gas 30 hari, dan BBM 20 hari. "Tidak ada pemeliharaan pembangkit selama masa kritis. Semua unit siap bekerja maksimal," tambahnya.

Titik rawan lain adalah jaringan udara. Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) rentan diterpa angin atau tertimpa pohon tumbang. Untuk itu, tim lapangan telah membersihkan right of way (ROW) sepanjang 2.855 kilometer. "Kami juga meminta masyarakat melaporkan pohon atau objek lain yang berpotensi menyentuh kabel. Kolaborasi ini kunci pencegahan gangguan," imbau Adi.

Genset, UPS, dan 69 Ribu Personel Siaga

Selain infrastruktur tetap, PLN menyebarkan 1.839 unit genset, 636 UPS, dan 1.276 gardu bergerak ke titik-titik strategis: bandara, pelabuhan, terminal, serta 2.855 lokasi salat Id. "Peralatan cadangan ini diprioritaskan untuk lokasi vital seperti rumah sakit, pusat pemerintahan, dan area VVIP," papar Adi.

Dukungan manusia tak kalah masif. Sebanyak 69 ribu personel siaga—termasuk special force—dikerahkan dengan peralatan lengkap. Mereka didukung 3.830 posko dari Sabang hingga Merauke, siap bergerak dalam hitungan menit jika terjadi gangguan. "Setiap personel dilatih menghadapi skenario terburuk, termasuk pemulihan listrik pasca-bencana," tegasnya.

PLN tak bekerja sendiri. Kolaborasi dengan BMKG, BPBD, TNI, Polri, dan pemerintah daerah diperkuat untuk memitigasi dampak cuaca ekstrem. Data prakiraan cuaca dipantau real-time, memungkinkan tim siaga PLN bergerak preemptif ke daerah rawan. "Koordinasi ini memastikan respons cepat jika terjadi gangguan, terutama di daerah 3T (tertinggal, terdepan, terluar)," ujar Adi.

Masyarakat pun diajak berperan aktif. Melalui aplikasi PLN Mobile, warga bisa melaporkan gangguan atau potensi risiko di sekitarnya. "Laporan cepat dari masyarakat membantu kami bertindak sebelum masalah meluas," tuturnya.

Bagi PLN, Idulfitri bukan sekadar momen bisnis, tapi komitmen menjaga cahaya kebahagiaan. "Dari pembangkit hingga stop kontak di rumah, semua kami pastikan berjalan optimal. Ini bentuk dedikasi kami untuk Indonesia," pungkas Adi.

Dengan langkah antisipatif yang nyaris tanpa celah, PLN berharap dentang takbir dan tawa keluarga di Hari Raya tak terganggu oleh gelap. Sebab, di balik setiap lampu yang menyala, ada kerja keras ribuan tangan yang memastikan: listrik tak sekadar mengalir, tapi menghadirkan ketenangan.

LihatTutupKomentar